Demam Ekonomi Kerakyatan di Indonesia
DEMAM EKONOMI KERAKYATAN
Belum selesai dengan demam ekonomi syariah, sekarang Indonesia
dihadapkan dengan
demam program ekonomi kerakyatan yang sering di sampaikan dan dimasukan dalam
program kerja oleh beberapa calon pejabat negara untuk menarik simpati
masyarakat. ekonomi kerakyatan merupakan suatu konsep ekonomi yang berasaskan
kekeluargaan yang bermasyarakat.
Menurut Prof. Mubyarto dari UGM menyepakati
bahwa ekonomi kerakyatan adalah upaya memberdayakan (kelompok/satuan) ekonomi
yang mendominasi struktur dunia usaha yang di kelola oleh dan untuk sekolompok
masyarakat banyak (rakyat). Melihat sedikit
awal mulanya tercetusnya ide ekonomi kerakyatan di pelopori oleh Bung Hatta
dengan menulis judul buku “Ekonomi Rakyat dalam Bahaya”. Subtansi dari buku ini
menjadi salah satu landasan untuk mengenyahkan sistem ekonomi kolonial Belanda
yang didukung dan dibantu oleh kaum aristokrat dengan sistem feodalisme didalam negeri dan
pihak swasta asing tertentu sebagai komprador pihak kolonial Belanda.
Konsep ekonomi
kerakyatan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945, yang mengemukakan sebuah sistem
perekonomian yag di tujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang
ekonomi. Terdapat 3 prinsip dalam konsep ekonomi kerakayatan. Pertama,
perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Kedua, cabang-cabang yang penting bagi negara dan masyarakat di kelola oleh
negara. Ketiga, bumi, air dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya di
kelola oleh negara untuk kemakmuran masyarakat. Dari tiga prinsip tsb dapat di
katakan kalau peran negara atau pemerintah sangat besar dalam sistem ekonomi
kerakyatan.
Namun,
yang perlu kita cermati apakah konsep ekonomi kerakyatan bisa terimplementasi
dengan baik di Indonesia?. Mampukah para calon pejabat untuk merealisasikan
janji kampanyenya tersebut sampai masyarakat bisa merasakannya secara langsung?. Dengan
sistem ekonomi di Indonesia sampai sekarang, menurut penulis amatlah susah
ekonomi kerakyatan bisa di realisasikan secara massif. Karena, Indonesia lebih
akrab dengan sistem ekonomi kolonial belanda yang telah menguasai selama 3,5
abad. Dan kolonial Belanda telah berhasil mendoktrin pola pikir masyarakat umum
dengan sistem liberalisasi.
Hal ini bisa terjadi karena pihak kolonial belanda
mensubversi upaya bangsa Indonesia sejak kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 untuk
melaksanakan ekonomi kerakyatan. beberapa upaya subversi kolonial untuk
mencegah terlaksananya ekonomi kerakyatan, yaitu pertama terjadinya agresi
militer I dan II, tujuanya untuk mencegah Indonesia berdaulat, mandiri dan
berkepribadian. Kedua, dipaksanya Indonesia untuk memenuhi tiga syarat guna
memperoleh pengkauan kedaulatan dalam KMB 1949, (bersedia menerima warisan
hutang hindia belanda 4,3M Gulden, mematuhi ketentuan yg dikeluarkan IMF,
mempertahannkan keberadaan perusahaan asing
di Indonesia). Ketiga, dilakukanya adu domba karena dilakukanya tindakan
pembatalan KMB secara sepihak oleh Indonesia 1956., seperti peristiwa
PRRI/Permesta 1958. Keempat, di seliundupkanya mahasiswa Indonesia ke Amerika
untuk mempelajari ilmu ekonomi bercorak liberal-kapitalis 1957. Para ekonom
kemudian di kenal dengan Mafia Barkeley yang disiapkan untuk menguasai ekonomi
setelah tergulingnya soekarno pada 1966. Kelima, dibangunya pemerintahan
kontra-revolusioner (1967), melalui soeharto para mafia barkeley berusaha
membelokan arah perekonomian kerakyatan menjadi ekonomi pasar neoliberal. Hal
ini didukung oleh IMF, World Bank, USAID, dan ADB dengan cara mengucurkan utang
luar negeri. Keenam, dilakukanya proses liberalisasi besar-besaran sejak tahun
1983 melalui serangkaian kebijakan yang dikemas dalam paket deregulasi dan
debirokratisasi.
Sampai
sekarang hal itu masih terpelihara secara terlembaga dengan doktrinasi di
jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, yang tidak sadar lebih sering mengenalkan sistem ekonomi
liberal dan kapitalis daripada sistem ekonomi kerakyatan. hal ini bisa
dibuktikan dengan minimnya pengetahuan pemuda Indonesia tentang sistem dan
konsep ekonomi kerakyatan secara mendetail. Pemuda Indonesia dipaksa menyibukan
diri dengan berbagai kesibukan pendidikan secara administratif yang minim
skill.
Komentar
Posting Komentar